(0271) 625546

gkjbaki@gmail.com

Renungan Umum

22 Juli 2026

Adigang Adigung Adiguna

Bacaan Alkitab :

  • Matius 12 : 15 - 21

Video Renungan :

Bahan Renungan :

Bapak Ibu yang terkasih, kita tentu akrab dengan salah satu falsafah Jawa yang berbunyi “Adigang, Adigung, Adiguna”. Ini adalah sebuah sindiran atau pengingat tentang tiga kesombongan manusia:
  1. Adigang: Menyombongkan kekuatan fisik (seperti kijang yang mengandalkan larinya).
  2. Adigung: Menyombongkan kedudukan, kekuasaan atau keturunan (seperti gajah yang mengandalkan tubuh besarnya).
  3. Adiguna: Menyombongkan kepandaian atau kepintaran (seperti ular yang mengandalkan bisanya).
Intinya, falsafah ini mengingatkan kita betapa mudahnya manusia jatuh dalam jebakan pamer: "Ini lho saya, yang kuat, berkuasa, dan pintar!". Namun, bacaan kita hari ini dari Matius 12:15-21, kita melihat pemandangan yang 180 derajat berbeda. Yesus menunjukkan gaya hidup yang sama sekali terbalik dari prinsip Adigang, Adigung, Adiguna.

Dalam ayat-ayat tersebut, diceritakan bahwa Yesus baru saja menyembuhkan banyak orang sakit. Secara logika manusia, ini adalah momen terbaik untuk Viral atau FYP atau pamer kuasa (Adigang). Yesus punya kuasa penuh, Dia populer, dan ribuan orang mengikutinya. Kalau Yesus mau, Dia bisa saja mengumpulkan massa dan menggulingkan pemerintah Roma saat itu juga. Tapi apa yang Yesus lakukan? Ayat 15 mencatat, "Ia menyingkir dari sana." Lebih mengejutkan lagi di ayat 16, Yesus dengan keras melarang orang-orang yang disembuhkan-Nya untuk memberitahukan siapa Dia.

Yesus tidak butuh panggung. Dia tidak haus validasi atau pujian. Dia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk kesombongan (anti-Adigang), tidak memakai status-Nya sebagai Anak Allah untuk mengintimidasi orang (anti-Adigung), dan tidak memakai hikmat-Nya untuk membodohi sesama (anti-Adiguna).

Injil Matius mengutip nubuatan Nabi Yesaya untuk menggambarkan sosok Yesus yang sebenarnya: "Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak... Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya..." (Matius 12:19-20)

Perhatikan kontrasnya:
  1. Orang yang Adigang (merasa kuat) cenderung menginjak mereka yang lemah. Tapi Yesus justru merangkul "buluh yang patah terkulai" - merangkul orang-orang yang hatinya hancur, gagal, dan tersisih.
  2. Orang yang Adigung (merasa berkuasa) biasanya suka berteriak, memerintah, dan menuntut hormat. Tapi Yesus datang dengan senyap, lembut, dan tidak mencari perhatian publik dengan cara yang bising.
  3. Orang yang Adiguna (merasa pintar) sering kali meremehkan orang yang tidak tahu apa-apa. Tapi Yesus menjaga "sumbu yang pudar nyalanya" - Dia sabar menuntun kita yang sering kali ragu-ragu dan kurang beriman.
Di zaman media sosial sekarang, roh Adigang, Adigung, Adiguna ini dikemas dengan sangat rapi dalam bentuk flexing atau pamer. Kita dipicu untuk memamerkan apa yang kita punya, jabatan apa yang kita pegang, atau seberapa hebat pemikiran kita.

Lewat renungan hari ini, kita diundang untuk belajar dari Yesus. Memiliki kelebihan itu tidak salah. Menjadi kuat, sukses, dan pintar adalah hal yang baik. Namun, pertanyaannya adalah: Untuk apa semua itu kita gunakan?

Apakah kita menggunakannya untuk menindas orang lain dan meninggikan ego kita? Ataukah kita menggunakannya seperti Yesus untuk melayani, menyembuhkan, dan menjadi berkat bagi mereka yang sedang "patah terkulai" di sekitar kita?

Mari lepaskan sifat egois dan kesombongan kita. Kekuatan, kedudukan, dan kepintaran yang kita miliki hanyalah titipan. Jadilah pribadi yang membawa keteduhan, bukan kegaduhan. Tuhan Yesus memberkati.
renungan Umum, Adigang Adigung Adiguna, Yulianto Samuel, gereja kristen jawa, gkj, gkj baki, gereja kristen jawa baki, baki, sukoharjo, gkj klasis sukoharjo, klasis sukoharjo, klasis, sinode gkj, sinode

Pengisi Renungan

Yulianto Samuel

kebaktian, kebaktian online, live streaming, gereja kristen jawa, gkj, gkj baki, gereja kristen jawa baki, baki, sukoharjo, gkj klasis sukoharjo, klasis sukoharjo, klasis, sinode gkj, sinode