(0271) 625546

gkjbaki@gmail.com

Renungan Ibadah

07 April 2024

renungan Ibadah, Paskah ke-2: Membagikan Damai Sejahtera Kristus, LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng, gereja kristen jawa, gkj, gkj baki, gereja kristen jawa baki, baki, sukoharjo, gkj klasis sukoharjo, klasis sukoharjo, klasis, sinode gkj, sinode

Paskah ke-2: Membagikan Damai Sejahtera Kristus

Bacaan Alkitab :

  • Kisah Para Rasul 4: 32 - 35
  • Mazmur 133
  • 1 Yohanes 1: 1 - 2: 2
  • Yohanes 20: 19 - 31

Bahan Renungan :

Damai sejahtera sesungguhnya adalah dambaan setiap orang. Namun kita bisa bertanya, bila setiap orang menghendaki damai sejahtera, mengapa itu tidak terwujud dengan baik? Mengapa masih banyak keadaan tidak damai di berbagai tempat? Damai sejahtera itu penting, namun sayangnya ia juga menjadi kepentingan dari pihak-pihak tertentu. Kepentingan ini membuat mereka mengukur damai sejahtera atau kedamaian itu menurut versi, idealisme, maksud, dan pengalaman dari kelompoknya sendiri. Alih-alih mewujudkan damai sejahtera bersama, yang terjadi justru adanya kepentingan membuat sifat egois yang dipaksakan dan itulah yang menghambat damai sejahtera dan perdamaian terjadi.

Bagaimana dengan orang Kristen? Apakah kita memiliki kepentingan membawa damai sejahtera menurut versi Kristen? Sebenarnya damai sejahtera dalam iman Kristen ialah damai sejahtera Kristus. Apakah dengan membagikan damai sejahtera Kristus, kita terjatuh pada kesalahan membawa kepentingan pribadi atau golongan sehingga gagal membawa damai sejahtera sejati? Tentu saja tidak, karena Kristus membawa teladan dan sifat rela berkurban yang menyingkirkan segala ego dan kepentingan sepihak.

Injil Yohanes yang memberi kesaksian tentang kebangkitan Yesus di tengah-tengah para murid. Kebangkitan-Nya disertai pemberian damai sejahtera bagi para murid yang sedang dalam keadaan khawatir dan takut. Damai sejahtera itu sangat dibutuhkan para murid. Segala kemelut dan kecemasan dibuat sirna oleh damai sejahtera yang Yesus berikan. Setelah itu Yesus menyampaikan lagi damai sejahtera-Nya, yang kali ini disertai pengutusan kepada para murid. Para murid juga diberikan Roh Kudus serta menerima kuasa yang besar. Mereka diutus memberitakan Injil, yakni karya keselamatan dari Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus.

Pemberitaan Injil itu berdampak besar dan luas. Jumlah orang-orang percaya semakin bertambah. Itulah kesaksian Lukas dalam Kisah Para Rasul. Orang-orang yang percaya itu hidup bersekutu dalam komunitas. Komunitas mereka dengan sendirinya menghidupi teladan Yesus, yakni rela berkurban bagi sesama. Hal ini ditunjukkan dengan tindakan mereka berbagi kepunyaannya, yang tidak dianggap miliknya sendiri, melainkan diperuntukkan bagi kepentingan dan kebutuhan orang lain.

Hidup bersama dalam komunitas juga harus disertai dengan relasi atau hubungan yang rukun. Itulah pesan penulis Mazmur 133, bahwa Allah berkenan atas hidup bersama yang rukun. Hidup yang rukun adalah kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah, seperti minyak yang menjadi sarana penahbisan Harun menjadi imam. Seperti kehidupan imam yang melayani kepada umat dan memberikan hidupnya kepada Allah, demikian juga kehidupan komunitas yang rukun adalah kehidupan yang diperuntukkan bagi Allah. Hidup yang rukun juga membawa berkat, karena kehidupan pasti berkembang dalam keadaan rukun. Hidup rukun selalu selaras dengan damai sejahtera.

Persekutuan orang-orang percaya tidak hanya dengan sesamanya, melainkan juga merupakan persekutuan dengan Allah Bapa dan Anak-Nya, Yesus Kristus. Itulah berita yang dibawa penulis Surat 1 Yohanes kepada para pembacanya. Penulis 1 Yohanes menyampaikan bahwa mereka memberitakan pengalaman persekutuan dengan Bapa dan Anak. Persekutuan itu membuat orang-orang percaya hidup dalam terang, karena Allah adalah terang. Dalam terang itu segalanya tampak, sehingga orang-orang percaya tidak lagi hidup dalam dosa, melainkan dalam pertobatan karena sudah disucikan dan diselamatkan oleh darah Yesus.

Sekarang inilah beberapa pesan dari bacaan leksionari kita menghayati panggilan kita untuk “membagikan damai sejahtera Kristus.” Pertama, damai sejahtera itu terlebih dahulu kita terima dari Tuhan Yesus Kristus yang telah berkurban bagi kita, karena kasih-Nya yang besar telah menyelamatkan dan menyucikan kita yang percaya. Kedua, damai sejahtera itu tidak untuk dinikmati sendiri, karena dengan demikian justru membawa kita pada sikap egois yang berlawanan dengan roh damai sejahtera. Damai sejahtera itu Yesus berikan agar para murid dan setiap orang percaya, membawanya kepada dunia dan semua orang. Itulah pengutusan Yesus kepada setiap kita yang percaya, tidak hanya kepada para murid waktu itu, sehingga kita pun menjadi duta damai sejahtera Kristus.

Menjadi utusan yang membawa damai sejahtera Kristus, harus disertai sikap rela berkurban bagi sesama. Tidak ada kasih tanpa pengurbanan, yang berarti kasih itu senantiasa disertai dengan pengurbanan bagi sesama. Pengurbanan ini dihidupi seturut teladan Yesus kepada kita.

Ketiga, damai sejahtera yang disertai pengurbanan bagi sesama berbuahkan hidup yang berbagi, hidup yang rukun, serta hidup yang menjadi berkat. Allah senantiasa berkenan atas hal-hal tersebut. Oleh karena itu mari kita wujudkan dengan kesungguhan hati, menghayati damai sejahtera yang telah kita terima sebagai keselamatan kita, membawanya kepada sesama dengan roh rela berkurban, serta hidup rukun dengan sesama sebagai hal yang diperkenan oleh Allah. Selamat berbagi damai sejahtera Kristus kepada sesama dan kepada dunia. Amin.

kebaktian, kebaktian online, live streaming, gereja kristen jawa, gkj, gkj baki, gereja kristen jawa baki, baki, sukoharjo, gkj klasis sukoharjo, klasis sukoharjo, klasis, sinode gkj, sinode