(0271) 625546

gkjbaki@gmail.com

Renungan Ibadah

29 Maret 2024

renungan Ibadah, Menderita? Siapa Takut! (Jumat Agung), LPP Sinode GKJ dan GKI SW Jateng, gereja kristen jawa, gkj, gkj baki, gereja kristen jawa baki, baki, sukoharjo, gkj klasis sukoharjo, klasis sukoharjo, klasis, sinode gkj, sinode

Menderita? Siapa Takut! (Jumat Agung)

Bacaan Alkitab :

  • Yesaya 52: 13 - 53: 12
  • Mazmur 22
  • Ibrani 10: 16 - 25
  • Yohanes 18: 28 - 19: 37

Bahan Renungan :

Penderitaan adalah salah satu keadaan yang menjadikan manusia terpuruk, sedih, merasa hidupnya gagal. Hal itu membuat semua orang mencoba menghindarinya, bahkan menolaknya. Sebisa mungkin penderitaan itu tidak boleh ada dalam hidup manusia. Namun, di saat semua orang ingin menolaknya, penderitaan itu kadang datang silih berganti dalam kehidupan.

Jika di antara saudara-saudari sedang mengalami penderitaan atau berbagai penderitaan, apa yang terbersit dalam pikiran dan hati saudara-saudari? Apakah di sana terlontar keluhan, kekecewaan, marah, tawar-menawar, menolak atau tindakan-tindakan lain yang membuat kita merasa berat atas penderitaan yang hadir dalam hidup?

Pada hari Jumat Agung ini kita akan menghayati kehidupan kita berlandaskan peristiwa Yesus dengan derita yang dialami-Nya. Kita juga belajar dari para leluhur iman kita. Kehidupan mereka sama seperti yang kita alami. Penderitaan merupakan bagian nyata yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Dari Yesaya kita bisa melihat penderitaan yang dialami oleh seorang yang disebut sebagai hamba Allah. Seorang hamba Allah hidupnya dekat dengan Allah. Kedekatan itu membuat manusia berpikir bahwa hamba itu akan hidup dengan keberhasilan, ditinggikan dan disanjung serta dimuliakan hingga banyak orang tertegun. Namun ternyata nubuatan Yesaya tentang hamba Allah itu sangat berbeda dengan pemikiran manusia, karena hamba tersebut buruk rupanya bahkan sudah tidak seperti manusia lagi. Sekalipun demikian, hamba ini akan membuat semua orang tercengang bahkan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia. Melalui dialah apa yang tidak pernah diceritakan akan dilihatnya dan yang tidak didengarnya akan dipahaminya.

Pemazmur mempersaksikan bagaimana perasaan hatinya karena merasa ditinggalkan Allah. Dalam deritaannya pemazmur berseru minta tolong kepada Allah. Namun ia merasa Allah telah meninggalkannya. Apa pun yang diucapkan dalam seruannya seolah tidak lagi didengarkan oleh Allah. Imannya kepada Allah yang disebutnya sebagai Allah yang kudus di atas pujian orang Israel mulai goyah. Tekanan berat yang dialami pemazmur membuatnya lelah. Ia menggambarkan kehinaannya seperti ulat dan bukan manusia lagi. Dia sangat membutuhkan Allah karena kesusahan mendekat dan tidak ada yang menolongnya. Pemazmur merasa ketakutan dalam penderitaannya tersebut. Dalam derita, seolah semua orang tampak seperti hewan-hewan buas mengelilingi dan akan meremukkan serta menghancurkannya. Keluhan itu berangkat dari pergumulan hebat terkait dengan keterpisahannya dengan Allah.

Melalui Injil Yohanes kita melihat bagaimana Yesus menjalani derita-Nya. Injil Yohanes menuliskan tentang perjalanan penderitaan Yesus yang bertubi-tubi. Penderitaan- Nya tidak semakin ringan. Bertambahnya waktu, semakin berat pula derita-Nya, bahkan pada akhirnya berujung pada kematian. Penderitaan dihadapi Yesus ketika Ia berhadapan dengan orang banyak mendera-Nya, juga melalui peradilan yang tidak adil. Di hadapan imam besar Hanas, Yesus menerima keputusan nasib-Nya. Ini sangat memilukan.

Pilunya hati dirasakan ketika murid yang dekat dengan- Nya yaitu Petrus menyangkal Dia. Penderitaan-Nya bukan hanya fisik tetapi hati yang dikhianati oleh murid-Nya sendiri. Tidak cukup di situ Yesus Kembali dihadapkan pada Pilatus di gedung pengadilan. Khalayak ramai yang menuntut keadilan tidak mau masuk di gedung itu. Mereka takut menjadi najis karena sebentar lagi hendak memasuki hari Paskah. Ironisnya adalah saat Pilatus tidak menemukan kesalahan apa pun pada diri Yesus, ia tidak membela Yesus karena desakan orang banyak. Pilatus takut pada masa yang tak terkendali itu. Ia menyerahkan Yesus kepada mereka untuk dihukum mati.

Penderitaan Tuhan Yesus dalam perjalanan membawa salib bertambah berat. Ia disamakan dengan dua penjahat yang dosanya tidak terampuni. Titik tertinggi dalam pengurbanannya dialami saat semua orang menjatuhkan-Nya dan menempatkan Dia tidak lagi menyerupai manusia. Perilaku mereka terhadap Yesus sangat tidak manusiawi. Ajaran-ajaran agama yang tampak ramah di ruang-ruang peribadatan kini berubah menjadi garang dan penuh amarah saat berjumpa dengan politisasi agama.

Penghinaan, penderitaan dan hujatan dan semua hal jelek ditimpakan kepada-Nya. Tuhan Yesus mengambil panggilan dalam penderitaan-Nya. Ia berani menanggung kejahatan, dosa dan semua hal yang menekan hidup umat manusia. Sekalipun Yesus mati dengan derita yang amat berat, khalayak ramai belum puas dengan semua yang ditimpakannya pada Yesus. Demi kepentingannya untuk masuk Sabat, mereka menikam lambung Tuhan Yesus untuk meyakinkan bahwa Kristus telah mati.

Tuhan Yesus yang berani menderita supaya kita bisa hidup merdeka dari penghukuman akibat kejahatan dan dosa kita. Penderitaan demi penderitaan sampai pada kematian Yesus dikerjakan-Nya dengan berpusat pada Allah. Ada gamang dan gentar namun semua dapat dikerjakan dengan sempurna. Penderitaan bukan untuk dihindari karena takut, namun harus dijalani dengan bersandar pada kehendak Tuhan. Tindakan Yesus ini menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk berani menghadapi derita.

Jika seseorang ditawari untuk menderita, semua orang akan menolak sekalipun kepadanya diberikan imbalan yang besar. Penderitaan tidak pernah diharapkan dalam kehidupan. Meski demikian ketika penderitaan datang, penderitaan itu harus dihadapi, bukan dihindari. Bagaimana kita bisa dan berani menghadapi penderitaan?

Pertama, belajarlah dari Tuhan Yesus, Pemazmur, dan leluhur iman kita dalam Kitab Suci. Saat mereka menghadapi penderitaan, mereka menghadapi dengan hati yang tertuju pada Allah, bukan dengan kemarahan. Mereka tidak mempersalahkan keadaan, diri sendiri dan juga tidak mempersalahkan Allah. Sikap dan laku mereka ditujukan untuk mencari kehendak Tuhan. Sikap dan laku Tuhan Yesus terhadap penderitaan yang diperhadapkan kepada-Nya membawa kita melihat karya Allah yang luar biasa.

Kedua, percayakan hidup pada Tuhan. Sebagaimana Yesus dimampukan melalui penderitaan-Nya oleh Bapa, maka kita yang percaya pada-Nya akan dimampukan melalui penderitaan.

Ketiga, temukan makna di balik derita. Penderitaan juga menjadi salah satu cara kita berjumpa dengan Tuhan. Temukan makna di balik setiap penderitaan itu. Di balik penderitaan yang dialami Tuhan Yesus, dunia ditata menuju kebaruan Allah. Ia harus menjalani jalan derita supaya dunia selamat. Belajar dari makna besar itu, kita juga bisa menemukan makna atas penderitaan yang dialami.

Percayalah kepada Tuhan yang memampukan kita. Jalani hidup dengan tekun dan setia. Niscaya kemenangan akan diberikan bagi kita, sehingga kita bisa menjalani hidup walaupun penderitaan dialami. Kesetiaan dan ketekunan akan membawa kepada kita untuk terus melihat rengkuhan, topangan dan pertolongan Tuhan yang tak terbatas. Teruslah berjalan dan pandanglah salib-Nya. Tuhan meneguhkan dan memberkati kita semua. Amin

kebaktian, kebaktian online, live streaming, gereja kristen jawa, gkj, gkj baki, gereja kristen jawa baki, baki, sukoharjo, gkj klasis sukoharjo, klasis sukoharjo, klasis, sinode gkj, sinode